Mahalnya Perempuan, BBM dan Sembakoku
Tercukupinya kebutuhan akan sandang, dan papan manusia tidak terlepas
dari peran perempuan terhadap pemenuhan kebutuhan akan pangan. Selain itu peran
ganda perempuan sebagai seseorang yang di tuntut dalam kapasitasnya sebagai
seorang istri untuk produktif, yaitu penopang peran yang tak tergantikan untuk
hamil, melahirkan, dan menyusui juga menjadi nilai yang sangat berharga.
Keterpurukan bangsa ini menghadapi problematika rencana kenaikan harga
BBM dan sembako juga mengakibatkan himpitan dan geliat mereka untuk berperan
menyuarakan suara mereka menurunkan harga BBM dan Sembako. Bukan untuk mencari
pengakuan sebagai perempuan akan tetapi, mereka tentunnya akan lebih bijak
untuk mencari kehidupan yang layak bagi rumah tangganya.
Mati rasa
Kebutuhan manusia
untuk mampu mencukupi kehidupannya agar menjadi manusia yang layak hidup sejahtera
adalah naluri. Berbagai peran yang telah diambil perempuan saat ini dari peran
dalam lingkup domestik maupun lingkup sosial lainnya bukan halangan bagi mereka
memberikan tenaga, pikiran, dan suarannya semata-mata untuk rumah tangga dan
kehidupan yang layak baginnya. Meski tidak menutup kemungkinan segala resiko yang
mengancam mereka mulai dari efek bahan penyedap, pengaruh pestisida pada
sayuran dan bahan-bahan kemikal lainnya, hingga resiko sosial bahkan tak mereka
hiraukan.
Kemelut melambungnya
bahan baku pangan maupun BBM ini, menjadikan perempuan mati rasa akan hal
termahal akan dirinnya, sebagai perempuan dengan kelembutan, perempuan dengan
santun katannya, dan perempuan yang bijaksana dengan hatinnya. Peristiwa
demontrasi yang melibatkan perempuan menjadikan perempuan tangguh, bahkan
semakin terlihat angker pula ketika demonstran perempuan dihadapkan dengan
aparat kepolisian perempuan. Meski tendang menendang, jambak menjambak, atau
bahkan lontaran kata-kata pedas sebagai luapan emosi perempuan saat ini,
mereka tetap perempuan. Mereka punya hati, dan suara untuk di mengerti dan di
dengar kemauannya.
Setidaknya pemerintah
juga tidak mati rasa dalam menyikapi mahalnya sembako dan peran perempuan saat
ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar