GORESAN M(ASA)KU
Tulisan ini tercipta dariku teruntuk sahabatku yang telah melewati ¼ abad hidupnya,
entah berapa kilo beras yang kau makan hingga saat ini, berapa air dan udara yang kau nikmati hingga
usia tlah mampu mematangkan langkahmu kini. Dan berapa lembar cerita kau ukir
dalam 25 kali perayaan ulang tahunmu. Aku sebagai sahabat yang mungkin engkau
kenal ataupun tidak, yang pasti darah hawa dan adamku menuntunku mengucapakan selamat
ulang tahun untukmu.
Dalam pekat saat itu, kau tanyakan kepadaku tentang sebuah kehidupan
masa lampau, masa kini, dan asaku. Sahabatku ketahuilah bahwasannya masa lampau
adalah kehidupan dimana nafas telah mengisi setiap aliran darahku dari rahim
ibundaku tercint. Ya masa itu bagaikan kapas putih yang terbang dengan bebasnya
ditiup angin, bagaikan sebuah lebah yang tak pernah kering dari sangkar
madunnya. Layaknya kuda liar yang dengan tagarnya ia berlari untuk mendapatkan
semua yang diinginkannya.
Masa laluku yang penuh dengan kebahagaiaan hidup, meski di luar itu
aku tak pernah tahu apa yang orang tuaku kerjakan saat berusaha menghidupkan
senyumku, dan menjaga tangisku pecah di kesunyian malam. Masa lalu yang takkan
lekang tergores kerasnya dunia saat ini. Jika kau ingin mendengar tentang masa
lalumu, maka tanyakan pada sekelilingmu. Mereka akan menceritakan bukan
tentangmu akan tetapi cerita tentang bagaimana kau bisa hidup karna nafas yang
diburu orang tuamu, adalah cerita masa lalumu.
Kau tahu sobat, tentang masa
yang memekikkan gendang telinga karna ocehan dan teriakan wajah-wajah mengais
sesuap nasi, tentang cerita dan tangis
yang kau alami. Tentang sebuah cinta yang baru kau kenal masa kini. Ya saat ini
adalah saat bagiku mengenal cinta dengan kesadaranku, bukan lagi cinta karna
hangatnya dekapan ibuku saat lapar dan hausku tiba, bukan usapan air mata kala
ku kiminta sesuatu padannya. Masa kini adalah masaku memahami akan apa arti
sebuah cinta, dan terkadaang semakin ku nalar cinta itu semakin tak nyata
bagiku. Ceritaku tentang masa kini adalah bagaimana ku coba merangkak dalam
terjalnya mencari jati diriku, karna dalam cermin ku tlah temukan bayangan kedewasaanku.
Sahabatku, kita
manusia yang mana selama ini masih bernafas akan selalu memiliki 3 hal yang
akan saling mempengaruhi satu sama lain dalam kehidupan kita, yakni : masa
lalu, masa sekarang, dan masa depan. Segala sesuatu yang terjadi dalam
pekerjaan kita, dalam keuangan kita, dalam keluarga kita, dalam kesehatan kita
dan semua yang terjadi dalam hidup kita ini adalah sebuah proses sebab dan
akibat. Kondisi atau keadaan yang kita alami sekarang ini adalah akibat dari
segala sesuatu yang telah kita lakukan dan yang tidak kita lakukan di masa yang
lalu. Hasil yang kita alami sekarang adalah merupakan akibat dari pilihan-pilihan
kita di masa lalu.
Sebuah goresan yang
telah kita lewati selama ini adalah sebuah pembelajaran dari masa kemasa bagi
pendewasaaan diri kita. Ketika kita dahulu dilahirkan dari sebuah keluarga yang
penuh kasih, bersyukurlah kita. Seperti halnya diriku terlahir dengan kedua
orang tua ada disisiku adalah anugrah yang luar biasa. Perjuangan 9 bulan 10
hari ibuku dengan suara adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiriku
dari ayahku adalah yang terindah. Tangisanku bukanlah sebuah kesedihan karna
duniaku tlah berbeda tapi itu bagiku adalah jeritan pada dunia bahwasannya
inilah takdirku. Takdir menghadapi kerasnya dunia dan aku harus terima dengan semua
resikonnya. Dan kau tahu sobatku, sekolah saat itu jadi sarana yang telah
mendidikku, setelah ajaran dari ibundaku tentunnya. Dengan syukur juga meski
dengan tertatih menyekolahkanku, banyak bukti bahwa dunia ini kejam dam dank
eras sobat. Orang tuaku pernah kerja di sebuah proyek bangunan, pernah menjual
es keliling, menjadi kernet angkot, dan menjadi buruh pabrik. Mereka hannya
melontarkan senyum dan mengatakan inilah hidup nduk. Siapa yang ubet dia
yang dapet. Maksudnya siapa yang mau berusaha dialah yang kan memperoleh hasilnya,
setidaknya itulah yang bisa kutangkap dari mereka. Namun bagiku itulah masa
lalu, dahulu kita mampu memperoleh uang dengan hanya menjual hasil kebun, namun
kini harga 1 ikat sayur dua ribu takkan mampu mencukupi kebutuhan kuliahku
dengan kedua adikku yang perbulan bisa menghabiskan lebih dari dua juta,
kemampuan dagang yang telah diwariskan oleh orang tuaku kumanfaatkan saat itu, saat
menjamurnya handphone, dengan berjualan pulsa kucoba menambah uang sakuku
sendiri, dan tak terkhenti disitu karna hanya mampu memberiku keuntungan seratus
ribu perbulan saat itu. Begitu pula dengan pengalamanku menjadi sexi konsumsi
dari berbagai even kampus banyak pula kenalan dan relasiku di pasar, dan ku
temukan Bu. Farida, pedagang pakaian batik di Pasar Pagi Kaliwungu. Dengan
berbekal kepercayaan darinnya, dari 5 potong pakaian batik laku terjaual olehku
di kampus. Hingga ku diberikan kepercayaan pula membawa pakaian sesukaku untuk
kudagangkan, Alhamdulillah dari pintu ke pintu rumah sekitar kosku daganganku
laku. Tak berhenti disitu, kepercayaanku ku berikan pula pada teman-teman yang
berbeda kos denganku tanpa modal awal mereka bisa membawa daganganku. Dan
semester demi semester hingga kutuntaskan S.1.
Hidup tak selamanya sempurna dan selalu sama dengan rencana kita
kawan, seperti sebuah kesempurnaan yang selalu kita impikan. Bahkan untuk meraih
kesempurnaan itu manusia melakukan berbagai cara. Entah kesempurnaan macam apa
yang mereka inginkan keindahan tubuh, jabatan yang tiada berakhir, kakayaan
yang terus melimpah atau bahkan kalau memungkinlan mereka menginginkan
kesempurnaan dan keabadia untuk hidu di dunia. Sebuah kenyataan pahit akan
sangat sulit mereka terima jika kenyaan hidup tak sesuai dengan kehendak yang
mereka inginkan, begitulah manusia dengan nafsu yang menggelantunginya. Padahal
jelas Tuhan telah nyatakan bahwasanya apa yang menjadi kesempurnaan dimata-Nya
adalah nilai sebuah ketaqwaan seseorang terhadap-Nya. Dan masa itu telah ku
alami masa kini..ya masa dimana dilema menguasaiku untuk menentukan pilihan
kerja, mengingayt harapan S.2ku kuurungkan demi dua adikku yang masuk perguruan
tinggi bersamaan. Dan ku tak ingin paksakan egoku karna itu. Kini pekerjaan
menjadi hal yang harus kupilih antara mengajar di sekolah negeri lumayan
bergengsi namun orang tuaku harus ku tinggalkan kondisinnya yang semakin tua,
dengan beban kerja rumah tangga banyak. atau aku harus pulang dengan sekolah
luar biasa yang menjadi tempat kerjaku, mengingan tak ada lowongan guru wiyata
selai itu di tempatku. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku kembali ke
desaku. Dengan awal niatku semua demi ibuku, ya akan kubuktikan padannya
bahwasanny aku mampu menjadi sarjana pendidikan dalam segala kondisi di depanku,
meski kusadar selam kuliyahku aku tak pernah mendapatkan materi tentang PLB
atau pendidikan luar biasa, semua pasti ada jalannya jika kita mau, seperti
pesan ibuku dulu, aku harus ubet.
Sobatku, saat kesadaranku tumbuh, dan memahami akan nilai seebuah
pendidikan adalah manisvestasi bagaimana manusia mampu meninggikan derajad
mereka disisi-Nya. Hal ini sebuah proses untuk memaknai bagaimana sebuah
kebenaran dan kenyataan hidupku dan bagaimana memaknai sebuah kesalahan yang
harusnya dihindari selayaknya ajaran yang harus diikuti, pendidikan adalah
gerbang manusia memaknai siapa diri mereka. pendidikan sebagai upaya sadar yang
dilakukan oleh orang dewasa sebagai pendidik yang berusaha membimbing serta
mengarahkan dan mengembangkan anak untuk dewasa, dan bagiku orang tuaku dah
melakukan itu untukku.
Sebuah kenyataan bahwasannya diriku saat ini adalah guru. Terkadang
menjadi beban juga mengapa masa kiniku harus bertentangan dengan harapku pada
masa lalu yang ingin menjadi dokter. Ha..ha..ha…ya dan kita pasti tahu
jawabanya bahwa rencana manusia tentunya tak sebanding dengan rencana yang
Tuhan berikan. Dapatkah kalian membayangkan keberadaan kita bertentangan dengan
harapan kita selama ini sobat, cita-cita yang melenceng, dengan karir yang sedikit
beresiko adalah sebuah kenyataan yang
harus di hadapi. Meskipun demikian satu hal yang menjdi dasar atas penyimpangan
dan perbedaan dalam manusia, bahwasanya dalam hakikat perbedaan yang mencakup
berbagai hal baik bersivat individu, baik secara intelegensi, emosi, fisik,
kemampuan berinteraksi, dan perbedaan bawaan lainya bukan menjadi perbedaan
mendasar, dan mampu kita maklumi bahwasanya Tuhan dengan kuasanya dan kasih
sayangnya memberikan rahmad tanpa membedakan satu dengan yang lainya, hal
inilah yang menyamakan secara hakiki manusia, dan yang mematangkang niatku
menjalaninya.
Bagi orang awam sepertiku, kenyatan perbedaan peserta didik bagiku
yang belajar menjadi guru adalah suatu kewajaran jika itu sebatas dalam
kemampuan IQ mereka menerima sebuah meteri pelajaran, atau sebuah kenakalan
yang sangat unik dalam jiwa yang sedang mengalami perkembangan psikologi. Namun
hal ini menjadi sangat lain dan berebeda manakala aku dihadapkan pada kenyataan
bahwasanya peserta didikku harus merangkak dengan nglesot manakala menghampiriku
hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Aku harus menerima jabatan tangan yang
enggan untuk menjulur ke depan karna kondisi lengannya yang tertekuk. Dan
kutersadar dalam pagiku ku harus mendengarkan music Ahmad Dhani atau lagu India
kesukaanku, sedangkan saat kulihat dalam dekapan peserta didiku, yang dalam
hidupnya tak pernah sedikitpun mendengarkan suara nyanyian dari bibirnya
sendiri. Seandainya semua orang sadar akan hal itu. Meski pada kehidupan sebuah
makna luarbiasa menjadi makna yang sangat teridamkan manusia, namun bukan untuk
duniaku dan peserta didikku, dimana luar biasa menjadi sebuah kondisi dan
keadaan yang menyimpang dalam aspek kondisi fisik, sosial, maupun mentalnya
dimana mereka membutuhkan adanya pelayanan dan methode khusus dalam pelayanan
pendidikan mereka. sebuah pencapaian
bukan didasarkan kurikulum yang ada seperti halnya dengan peserta didik umumnya
akan tetapi kurikulum yang ada, harus menyesuaikan dengan kemampuan mereka
dalam menguasaai materi yang diajarkan sesuai dengan kemampuan yang mereka
bisa.
Butuh waktu yang lama hingga kuputuskan mengambil jalan ini dengan
masuk di SLBN Ungaran. Bukan sebuah keputusan yang mudah jika aku tidak
mengingat sebuah ilmu, meski sedikit hendaknya harus ditularkan dengan siapapun
juga dan Tuhanpun tak membedakan hal itu. Namun yang menjadi kekhawatiranku
adalah ketikmampuanku atau lebih tepatnya mampukah aku mengahadapi mereka dengan
dunia yang sangat jauh dalam imajinasiku. Meskipun begitu banyak hal yang tak
mengerti dengan kondisi yang tak sesempurna manusia kebanyakan, akan tetapi semangat
mereka tak pernah hilang untuk belajar. Perkataan mereka yang selalu jujur dari
hati. dan hal lain yang tak kumengerti, namun semakin kulangkahkan kakiku untuk
menyerah, hatiku berontak seakan merasa ingin tahu. Dan entah apa yang
menguatkanku hingga ku masih ingin disini mendengar dan melihat polah-polah
mereka. Mungkin Tuhan sedang menunjukkan ku tentang arti sebuah hidup, dan ada
sedikit harap manakala secercah senyum mampu menyapaku di pagi hari seakan banyak
kata yang ingin terucapkan dalam bibir mungil yang terkatup karna bisu, tuna
rungu, deafable atau apalah sebutannya yang pasti mereka harus tetap belajar
dan menjalani hidup sepertiku. Dan dengan gerakan jari mungil diikuti mimik
wajah mereka, aku berusahaa tuk pahami makna di balik kehidupan dan dunia
mereka. Mereka adalah manusia.
Sebuah Confucius dalam ungkapanya pernah mengatakan bahwasanya
jadilah kamu pohon yang banyak di lempari orang namun kau membalas dengan buah.
Sebegitu pelik sebuah hidup yang di jalani merupakan sebuah lingkaran proses yang
membawa manusia memaknai hidupnya. Lulus tidaknya tergantung dengan pilihan
manusia itu sendiri dan Tuhan telah memberikan pilihan. Layaknya sebuah pohon
yang dihidupkan Tuhan dengan kuasanya meski tanpa kata ia tahu apa yang menjdi
resiko entah akan di tebang dan dimanfaaatkan atau hanya sebagai pohon perdu
yang menunggu masa tuanya tanpa di lirikpun untuk digunakan hingga kematian
menuggunya.
Manusia adalah sedikit dari ciptaan Tuhan yang diberikan nyawa dan
akal meski merasa dirinya sebagai makhluk yang paling sempurnya, manusia tetap
manusia yang punya rasa mengeluh, merasa kurang, punya nafsu atau keinginan,
ambisi, dan kesempunaan diatas kesempunaan yang tak terbahasakan. Meski manusia
mwmiliki apa yang selama ini mereka inginkan dalan hidup entah kebutuhan makan,
sandang, dan papan , namun nyatanya manusia dengan berbagai cara emnuntut
sebuah kebutuhan lain yang membawa manusia harus dihadapkan dengan sebuah
pilihan yang sangat sulit. Meski makan tercukupi namun, kebutuhan makan ini
tidak sesedarhana makan, dengan sebuah pilihan untuk memilih antara kenikmatan
dan mengorbankan rasa nikmat dengan menahanya adalah pilihan yang tidak akan
mungkin diambil manusia yang mempunyai akal bahwasanya tidak ada manusia yang
tidak ingin hidup dalam kenikmatan. Begitu juga aku yang hanya manusai dengan
kelemahan dan kekurangan meski Tuhan telah menyempunakan aku dengan keadaanku
yang tanpa cacat tubuh dan mampu membedakan warna dan rasa layaknya manusia
yang Tuhan ciptakan lainya.
Dari sebuah jalan yang telah menuntunku hingga saat ini aku hanya
ingin berharap pada masa mendatangku, masa dimana aku berharap disitu adalah
masa yang selama ini aku impikan. Masa dengan buah pemikiranku selama ini. Masa
dengan banyak do’a dn berkah. Ya masa aku ingin mendirikan tempat pendidikan
nonformal bagi sekelilingku, masa dimana rumah bacaku terbangun dari
keringat-keringat keikhlasan dan kerja keras.
Sahabatku meski kau tak yakin padaku, karna ku tahu betapa bodohnya
diriku sebenarnya. Makimu adalah semangatku, kritikmu adalah yang
menyempurnakanku, dan candamu adalah hiburan terbaikku. Kini ku tahu masa
laluku bersamamu takkan terulang kembali, namun ku takkan melupakan itu, dan
masa kini yang kuhadapi saat ini, bantulah aku melalui do’a tulusmu, agar
kumampu melewati hari-hariku untuk menjemput masa depanku. Sahabat terbaikku
jujur kukatakan engakau adalah sahabat inspirasiku selama ini. Meski tanpa
tatap sekalipun, meski tanpa jabat tangan dan traktiran yang sebenarnya selalu
kunanti, engakau adalah yang terbaik.
Diriku adalah diriku dengan kelebihan dan kekuaranganku, dirimu adalah
dirimu dengan segala yang kau miliki, maka perkenankan tulisan sederhanaku ini
mampu mewakili rasaku. Terucap dalam goresanku selamat ulang tahun dan menjemput
masa depanmu semoga Tuhan selalu menjaga kita…amin.
Tulisan ini diikut sertakan dalam :
http://www.noormafitrianamzain.com/2012/05/give-away-cah-kesesi-ayutea.html
Subhanallah,
BalasHapusAne salut dengan perjuanganmu semasa kuliah sob. Sudah bisa hidup mandiri. Itu adalag ilmu niaga yang benar-benar bermanfaat. Terlebih saat kau masuk ke SLBN, subhanallah pengabdianmu sungguh besar kawan.