Sabtu, 26 Mei 2012

M(ASA)KU


GORESAN M(ASA)KU

Tulisan ini tercipta dariku teruntuk  sahabatku yang telah melewati ¼ abad hidupnya, entah berapa kilo beras yang kau makan hingga saat ini,  berapa air dan udara yang kau nikmati hingga usia tlah mampu mematangkan langkahmu kini. Dan berapa lembar cerita kau ukir dalam 25 kali perayaan ulang tahunmu. Aku sebagai sahabat yang mungkin engkau kenal ataupun tidak, yang pasti darah hawa dan adamku menuntunku mengucapakan selamat ulang tahun untukmu.
Dalam pekat saat itu, kau tanyakan kepadaku tentang sebuah kehidupan masa lampau, masa kini, dan asaku. Sahabatku ketahuilah bahwasannya masa lampau adalah kehidupan dimana nafas telah mengisi setiap aliran darahku dari rahim ibundaku tercint. Ya masa itu bagaikan kapas putih yang terbang dengan bebasnya ditiup angin, bagaikan sebuah lebah yang tak pernah kering dari sangkar madunnya. Layaknya kuda liar yang dengan tagarnya ia berlari untuk mendapatkan semua yang diinginkannya.
Masa laluku yang penuh dengan kebahagaiaan hidup, meski di luar itu aku tak pernah tahu apa yang orang tuaku kerjakan saat berusaha menghidupkan senyumku, dan menjaga tangisku pecah di kesunyian malam. Masa lalu yang takkan lekang tergores kerasnya dunia saat ini. Jika kau ingin mendengar tentang masa lalumu, maka tanyakan pada sekelilingmu. Mereka akan menceritakan bukan tentangmu akan tetapi cerita tentang bagaimana kau bisa hidup karna nafas yang diburu orang tuamu, adalah cerita masa lalumu.
 Kau tahu sobat, tentang masa yang memekikkan gendang telinga karna ocehan dan teriakan wajah-wajah mengais sesuap nasi, tentang cerita dan  tangis yang kau alami. Tentang sebuah cinta yang baru kau kenal masa kini. Ya saat ini adalah saat bagiku mengenal cinta dengan kesadaranku, bukan lagi cinta karna hangatnya dekapan ibuku saat lapar dan hausku tiba, bukan usapan air mata kala ku kiminta sesuatu padannya. Masa kini adalah masaku memahami akan apa arti sebuah cinta, dan terkadaang semakin ku nalar cinta itu semakin tak nyata bagiku. Ceritaku tentang masa kini adalah bagaimana ku coba merangkak dalam terjalnya mencari jati diriku, karna dalam cermin ku tlah temukan bayangan kedewasaanku.
Sahabatku, kita manusia yang mana selama ini masih bernafas akan selalu memiliki 3 hal yang akan saling mempengaruhi satu sama lain dalam kehidupan kita, yakni : masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Segala sesuatu yang terjadi dalam pekerjaan kita, dalam keuangan kita, dalam keluarga kita, dalam kesehatan kita dan semua yang terjadi dalam hidup kita ini adalah sebuah proses sebab dan akibat. Kondisi atau keadaan yang kita alami sekarang ini adalah akibat dari segala sesuatu yang telah kita lakukan dan yang tidak kita lakukan di masa yang lalu. Hasil yang kita alami sekarang adalah merupakan akibat dari pilihan-pilihan kita di masa lalu.
Sebuah goresan yang telah kita lewati selama ini adalah sebuah pembelajaran dari masa kemasa bagi pendewasaaan diri kita. Ketika kita dahulu dilahirkan dari sebuah keluarga yang penuh kasih, bersyukurlah kita. Seperti halnya diriku terlahir dengan kedua orang tua ada disisiku adalah anugrah yang luar biasa. Perjuangan 9 bulan 10 hari ibuku dengan suara adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiriku dari ayahku adalah yang terindah. Tangisanku bukanlah sebuah kesedihan karna duniaku tlah berbeda tapi itu bagiku adalah jeritan pada dunia bahwasannya inilah takdirku. Takdir menghadapi kerasnya dunia dan aku harus terima dengan semua resikonnya. Dan kau tahu sobatku, sekolah saat itu jadi sarana yang telah mendidikku, setelah ajaran dari ibundaku tentunnya. Dengan syukur juga meski dengan tertatih menyekolahkanku, banyak bukti bahwa dunia ini kejam dam dank eras sobat. Orang tuaku pernah kerja di sebuah proyek bangunan, pernah menjual es keliling, menjadi kernet angkot, dan menjadi buruh pabrik. Mereka hannya melontarkan senyum dan mengatakan inilah hidup nduk. Siapa yang ubet dia yang dapet. Maksudnya siapa yang mau berusaha dialah yang kan memperoleh hasilnya, setidaknya itulah yang bisa kutangkap dari mereka. Namun bagiku itulah masa lalu, dahulu kita mampu memperoleh uang dengan hanya menjual hasil kebun, namun kini harga 1 ikat sayur dua ribu takkan mampu mencukupi kebutuhan kuliahku dengan kedua adikku yang perbulan bisa menghabiskan lebih dari dua juta, kemampuan dagang yang telah diwariskan oleh orang tuaku kumanfaatkan saat itu, saat menjamurnya handphone, dengan berjualan pulsa kucoba menambah uang sakuku sendiri, dan tak terkhenti disitu karna hanya mampu memberiku keuntungan seratus ribu perbulan saat itu. Begitu pula dengan pengalamanku menjadi sexi konsumsi dari berbagai even kampus banyak pula kenalan dan relasiku di pasar, dan ku temukan Bu. Farida, pedagang pakaian batik di Pasar Pagi Kaliwungu. Dengan berbekal kepercayaan darinnya, dari 5 potong pakaian batik laku terjaual olehku di kampus. Hingga ku diberikan kepercayaan pula membawa pakaian sesukaku untuk kudagangkan, Alhamdulillah dari pintu ke pintu rumah sekitar kosku daganganku laku. Tak berhenti disitu, kepercayaanku ku berikan pula pada teman-teman yang berbeda kos denganku tanpa modal awal mereka bisa membawa daganganku. Dan semester demi semester hingga kutuntaskan S.1.
Hidup tak selamanya sempurna dan selalu sama dengan rencana kita kawan, seperti sebuah kesempurnaan yang selalu kita impikan. Bahkan untuk meraih kesempurnaan itu manusia melakukan berbagai cara. Entah kesempurnaan macam apa yang mereka inginkan keindahan tubuh, jabatan yang tiada berakhir, kakayaan yang terus melimpah atau bahkan kalau memungkinlan mereka menginginkan kesempurnaan dan keabadia untuk hidu di dunia. Sebuah kenyataan pahit akan sangat sulit mereka terima jika kenyaan hidup tak sesuai dengan kehendak yang mereka inginkan, begitulah manusia dengan nafsu yang menggelantunginya. Padahal jelas Tuhan telah nyatakan bahwasanya apa yang menjadi kesempurnaan dimata-Nya adalah nilai sebuah ketaqwaan seseorang terhadap-Nya. Dan masa itu telah ku alami masa kini..ya masa dimana dilema menguasaiku untuk menentukan pilihan kerja, mengingayt harapan S.2ku kuurungkan demi dua adikku yang masuk perguruan tinggi bersamaan. Dan ku tak ingin paksakan egoku karna itu. Kini pekerjaan menjadi hal yang harus kupilih antara mengajar di sekolah negeri lumayan bergengsi namun orang tuaku harus ku tinggalkan kondisinnya yang semakin tua, dengan beban kerja rumah tangga banyak. atau aku harus pulang dengan sekolah luar biasa yang menjadi tempat kerjaku, mengingan tak ada lowongan guru wiyata selai itu di tempatku. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku kembali ke desaku. Dengan awal niatku semua demi ibuku, ya akan kubuktikan padannya bahwasanny aku mampu menjadi sarjana pendidikan dalam segala kondisi di depanku, meski kusadar selam kuliyahku aku tak pernah mendapatkan materi tentang PLB atau pendidikan luar biasa, semua pasti ada jalannya jika kita mau, seperti pesan ibuku dulu, aku harus ubet.
Sobatku, saat kesadaranku tumbuh, dan memahami akan nilai seebuah pendidikan adalah manisvestasi bagaimana manusia mampu meninggikan derajad mereka disisi-Nya. Hal ini sebuah proses untuk memaknai bagaimana sebuah kebenaran dan kenyataan hidupku dan bagaimana memaknai sebuah kesalahan yang harusnya dihindari selayaknya ajaran yang harus diikuti, pendidikan adalah gerbang manusia memaknai siapa diri mereka. pendidikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh orang dewasa sebagai pendidik yang berusaha membimbing serta mengarahkan dan mengembangkan anak untuk dewasa, dan bagiku orang tuaku dah melakukan itu untukku.
Sebuah kenyataan bahwasannya diriku saat ini adalah guru. Terkadang menjadi beban juga mengapa masa kiniku harus bertentangan dengan harapku pada masa lalu yang ingin menjadi dokter. Ha..ha..ha…ya dan kita pasti tahu jawabanya bahwa rencana manusia tentunya tak sebanding dengan rencana yang Tuhan berikan. Dapatkah kalian membayangkan keberadaan kita bertentangan dengan harapan kita selama ini sobat, cita-cita yang melenceng, dengan karir yang sedikit beresiko adalah  sebuah kenyataan yang harus di hadapi. Meskipun demikian satu hal yang menjdi dasar atas penyimpangan dan perbedaan dalam manusia, bahwasanya dalam hakikat perbedaan yang mencakup berbagai hal baik bersivat individu, baik secara intelegensi, emosi, fisik, kemampuan berinteraksi, dan perbedaan bawaan lainya bukan menjadi perbedaan mendasar, dan mampu kita maklumi bahwasanya Tuhan dengan kuasanya dan kasih sayangnya memberikan rahmad tanpa membedakan satu dengan yang lainya, hal inilah yang menyamakan secara hakiki manusia, dan yang mematangkang niatku menjalaninya.
Bagi orang awam sepertiku, kenyatan perbedaan peserta didik bagiku yang belajar menjadi guru adalah suatu kewajaran jika itu sebatas dalam kemampuan IQ mereka menerima sebuah meteri pelajaran, atau sebuah kenakalan yang sangat unik dalam jiwa yang sedang mengalami perkembangan psikologi. Namun hal ini menjadi sangat lain dan berebeda manakala aku dihadapkan pada kenyataan bahwasanya peserta didikku harus merangkak dengan nglesot manakala menghampiriku hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Aku harus menerima jabatan tangan yang enggan untuk menjulur ke depan karna kondisi lengannya yang tertekuk. Dan kutersadar dalam pagiku ku harus mendengarkan music Ahmad Dhani atau lagu India kesukaanku, sedangkan saat kulihat dalam dekapan peserta didiku, yang dalam hidupnya tak pernah sedikitpun mendengarkan suara nyanyian dari bibirnya sendiri. Seandainya semua orang sadar akan hal itu. Meski pada kehidupan sebuah makna luarbiasa menjadi makna yang sangat teridamkan manusia, namun bukan untuk duniaku dan peserta didikku, dimana luar biasa menjadi sebuah kondisi dan keadaan yang menyimpang dalam aspek kondisi fisik, sosial, maupun mentalnya dimana mereka membutuhkan adanya pelayanan dan methode khusus dalam pelayanan pendidikan mereka.  sebuah pencapaian bukan didasarkan kurikulum yang ada seperti halnya dengan peserta didik umumnya akan tetapi kurikulum yang ada, harus menyesuaikan dengan kemampuan mereka dalam menguasaai materi yang diajarkan sesuai dengan kemampuan yang mereka bisa.
Butuh waktu yang lama hingga kuputuskan mengambil jalan ini dengan masuk di SLBN Ungaran. Bukan sebuah keputusan yang mudah jika aku tidak mengingat sebuah ilmu, meski sedikit hendaknya harus ditularkan dengan siapapun juga dan Tuhanpun tak membedakan hal itu. Namun yang menjadi kekhawatiranku adalah ketikmampuanku atau lebih tepatnya mampukah aku mengahadapi mereka dengan dunia yang sangat jauh dalam imajinasiku. Meskipun begitu banyak hal yang tak mengerti dengan kondisi yang tak sesempurna manusia kebanyakan, akan tetapi semangat mereka tak pernah hilang untuk belajar. Perkataan mereka yang selalu jujur dari hati. dan hal lain yang tak kumengerti, namun semakin kulangkahkan kakiku untuk menyerah, hatiku berontak seakan merasa ingin tahu. Dan entah apa yang menguatkanku hingga ku masih ingin disini mendengar dan melihat polah-polah mereka. Mungkin Tuhan sedang menunjukkan ku tentang arti sebuah hidup, dan ada sedikit harap manakala secercah senyum mampu menyapaku di pagi hari seakan banyak kata yang ingin terucapkan dalam bibir mungil yang terkatup karna bisu, tuna rungu, deafable atau apalah sebutannya yang pasti mereka harus tetap belajar dan menjalani hidup sepertiku. Dan dengan gerakan jari mungil diikuti mimik wajah mereka, aku berusahaa tuk pahami makna di balik kehidupan dan dunia mereka. Mereka adalah manusia.
Sebuah Confucius dalam ungkapanya pernah mengatakan bahwasanya jadilah kamu pohon yang banyak di lempari orang namun kau membalas dengan buah. Sebegitu pelik sebuah hidup yang di jalani merupakan sebuah lingkaran proses yang membawa manusia memaknai hidupnya. Lulus tidaknya tergantung dengan pilihan manusia itu sendiri dan Tuhan telah memberikan pilihan. Layaknya sebuah pohon yang dihidupkan Tuhan dengan kuasanya meski tanpa kata ia tahu apa yang menjdi resiko entah akan di tebang dan dimanfaaatkan atau hanya sebagai pohon perdu yang menunggu masa tuanya tanpa di lirikpun untuk digunakan hingga kematian menuggunya.
Manusia adalah sedikit dari ciptaan Tuhan yang diberikan nyawa dan akal meski merasa dirinya sebagai makhluk yang paling sempurnya, manusia tetap manusia yang punya rasa mengeluh, merasa kurang, punya nafsu atau keinginan, ambisi, dan kesempunaan diatas kesempunaan yang tak terbahasakan. Meski manusia mwmiliki apa yang selama ini mereka inginkan dalan hidup entah kebutuhan makan, sandang, dan papan , namun nyatanya manusia dengan berbagai cara emnuntut sebuah kebutuhan lain yang membawa manusia harus dihadapkan dengan sebuah pilihan yang sangat sulit. Meski makan tercukupi namun, kebutuhan makan ini tidak sesedarhana makan, dengan sebuah pilihan untuk memilih antara kenikmatan dan mengorbankan rasa nikmat dengan menahanya adalah pilihan yang tidak akan mungkin diambil manusia yang mempunyai akal bahwasanya tidak ada manusia yang tidak ingin hidup dalam kenikmatan. Begitu juga aku yang hanya manusai dengan kelemahan dan kekurangan meski Tuhan telah menyempunakan aku dengan keadaanku yang tanpa cacat tubuh dan mampu membedakan warna dan rasa layaknya manusia yang Tuhan ciptakan lainya.

Dari sebuah jalan yang telah menuntunku hingga saat ini aku hanya ingin berharap pada masa mendatangku, masa dimana aku berharap disitu adalah masa yang selama ini aku impikan. Masa dengan buah pemikiranku selama ini. Masa dengan banyak do’a dn berkah. Ya masa aku ingin mendirikan tempat pendidikan nonformal bagi sekelilingku, masa dimana rumah bacaku terbangun dari keringat-keringat keikhlasan dan kerja keras.
Sahabatku meski kau tak yakin padaku, karna ku tahu betapa bodohnya diriku sebenarnya. Makimu adalah semangatku, kritikmu adalah yang menyempurnakanku, dan candamu adalah hiburan terbaikku. Kini ku tahu masa laluku bersamamu takkan terulang kembali, namun ku takkan melupakan itu, dan masa kini yang kuhadapi saat ini, bantulah aku melalui do’a tulusmu, agar kumampu melewati hari-hariku untuk menjemput masa depanku. Sahabat terbaikku jujur kukatakan engakau adalah sahabat inspirasiku selama ini. Meski tanpa tatap sekalipun, meski tanpa jabat tangan dan traktiran yang sebenarnya selalu kunanti, engakau adalah yang terbaik.
Diriku adalah diriku dengan kelebihan dan kekuaranganku, dirimu adalah dirimu dengan segala yang kau miliki, maka perkenankan tulisan sederhanaku ini mampu mewakili rasaku. Terucap dalam goresanku selamat ulang tahun dan menjemput masa depanmu semoga Tuhan selalu menjaga kita…amin. 


  Tulisan ini diikut sertakan dalam :
http://www.noormafitrianamzain.com/2012/05/give-away-cah-kesesi-ayutea.html








1 komentar:

  1. Subhanallah,
    Ane salut dengan perjuanganmu semasa kuliah sob. Sudah bisa hidup mandiri. Itu adalag ilmu niaga yang benar-benar bermanfaat. Terlebih saat kau masuk ke SLBN, subhanallah pengabdianmu sungguh besar kawan.

    BalasHapus