Sabtu, 26 Mei 2012

M(ASA)KU


GORESAN M(ASA)KU

Tulisan ini tercipta dariku teruntuk  sahabatku yang telah melewati ¼ abad hidupnya, entah berapa kilo beras yang kau makan hingga saat ini,  berapa air dan udara yang kau nikmati hingga usia tlah mampu mematangkan langkahmu kini. Dan berapa lembar cerita kau ukir dalam 25 kali perayaan ulang tahunmu. Aku sebagai sahabat yang mungkin engkau kenal ataupun tidak, yang pasti darah hawa dan adamku menuntunku mengucapakan selamat ulang tahun untukmu.
Dalam pekat saat itu, kau tanyakan kepadaku tentang sebuah kehidupan masa lampau, masa kini, dan asaku. Sahabatku ketahuilah bahwasannya masa lampau adalah kehidupan dimana nafas telah mengisi setiap aliran darahku dari rahim ibundaku tercint. Ya masa itu bagaikan kapas putih yang terbang dengan bebasnya ditiup angin, bagaikan sebuah lebah yang tak pernah kering dari sangkar madunnya. Layaknya kuda liar yang dengan tagarnya ia berlari untuk mendapatkan semua yang diinginkannya.
Masa laluku yang penuh dengan kebahagaiaan hidup, meski di luar itu aku tak pernah tahu apa yang orang tuaku kerjakan saat berusaha menghidupkan senyumku, dan menjaga tangisku pecah di kesunyian malam. Masa lalu yang takkan lekang tergores kerasnya dunia saat ini. Jika kau ingin mendengar tentang masa lalumu, maka tanyakan pada sekelilingmu. Mereka akan menceritakan bukan tentangmu akan tetapi cerita tentang bagaimana kau bisa hidup karna nafas yang diburu orang tuamu, adalah cerita masa lalumu.
 Kau tahu sobat, tentang masa yang memekikkan gendang telinga karna ocehan dan teriakan wajah-wajah mengais sesuap nasi, tentang cerita dan  tangis yang kau alami. Tentang sebuah cinta yang baru kau kenal masa kini. Ya saat ini adalah saat bagiku mengenal cinta dengan kesadaranku, bukan lagi cinta karna hangatnya dekapan ibuku saat lapar dan hausku tiba, bukan usapan air mata kala ku kiminta sesuatu padannya. Masa kini adalah masaku memahami akan apa arti sebuah cinta, dan terkadaang semakin ku nalar cinta itu semakin tak nyata bagiku. Ceritaku tentang masa kini adalah bagaimana ku coba merangkak dalam terjalnya mencari jati diriku, karna dalam cermin ku tlah temukan bayangan kedewasaanku.
Sahabatku, kita manusia yang mana selama ini masih bernafas akan selalu memiliki 3 hal yang akan saling mempengaruhi satu sama lain dalam kehidupan kita, yakni : masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Segala sesuatu yang terjadi dalam pekerjaan kita, dalam keuangan kita, dalam keluarga kita, dalam kesehatan kita dan semua yang terjadi dalam hidup kita ini adalah sebuah proses sebab dan akibat. Kondisi atau keadaan yang kita alami sekarang ini adalah akibat dari segala sesuatu yang telah kita lakukan dan yang tidak kita lakukan di masa yang lalu. Hasil yang kita alami sekarang adalah merupakan akibat dari pilihan-pilihan kita di masa lalu.
Sebuah goresan yang telah kita lewati selama ini adalah sebuah pembelajaran dari masa kemasa bagi pendewasaaan diri kita. Ketika kita dahulu dilahirkan dari sebuah keluarga yang penuh kasih, bersyukurlah kita. Seperti halnya diriku terlahir dengan kedua orang tua ada disisiku adalah anugrah yang luar biasa. Perjuangan 9 bulan 10 hari ibuku dengan suara adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiriku dari ayahku adalah yang terindah. Tangisanku bukanlah sebuah kesedihan karna duniaku tlah berbeda tapi itu bagiku adalah jeritan pada dunia bahwasannya inilah takdirku. Takdir menghadapi kerasnya dunia dan aku harus terima dengan semua resikonnya. Dan kau tahu sobatku, sekolah saat itu jadi sarana yang telah mendidikku, setelah ajaran dari ibundaku tentunnya. Dengan syukur juga meski dengan tertatih menyekolahkanku, banyak bukti bahwa dunia ini kejam dam dank eras sobat. Orang tuaku pernah kerja di sebuah proyek bangunan, pernah menjual es keliling, menjadi kernet angkot, dan menjadi buruh pabrik. Mereka hannya melontarkan senyum dan mengatakan inilah hidup nduk. Siapa yang ubet dia yang dapet. Maksudnya siapa yang mau berusaha dialah yang kan memperoleh hasilnya, setidaknya itulah yang bisa kutangkap dari mereka. Namun bagiku itulah masa lalu, dahulu kita mampu memperoleh uang dengan hanya menjual hasil kebun, namun kini harga 1 ikat sayur dua ribu takkan mampu mencukupi kebutuhan kuliahku dengan kedua adikku yang perbulan bisa menghabiskan lebih dari dua juta, kemampuan dagang yang telah diwariskan oleh orang tuaku kumanfaatkan saat itu, saat menjamurnya handphone, dengan berjualan pulsa kucoba menambah uang sakuku sendiri, dan tak terkhenti disitu karna hanya mampu memberiku keuntungan seratus ribu perbulan saat itu. Begitu pula dengan pengalamanku menjadi sexi konsumsi dari berbagai even kampus banyak pula kenalan dan relasiku di pasar, dan ku temukan Bu. Farida, pedagang pakaian batik di Pasar Pagi Kaliwungu. Dengan berbekal kepercayaan darinnya, dari 5 potong pakaian batik laku terjaual olehku di kampus. Hingga ku diberikan kepercayaan pula membawa pakaian sesukaku untuk kudagangkan, Alhamdulillah dari pintu ke pintu rumah sekitar kosku daganganku laku. Tak berhenti disitu, kepercayaanku ku berikan pula pada teman-teman yang berbeda kos denganku tanpa modal awal mereka bisa membawa daganganku. Dan semester demi semester hingga kutuntaskan S.1.
Hidup tak selamanya sempurna dan selalu sama dengan rencana kita kawan, seperti sebuah kesempurnaan yang selalu kita impikan. Bahkan untuk meraih kesempurnaan itu manusia melakukan berbagai cara. Entah kesempurnaan macam apa yang mereka inginkan keindahan tubuh, jabatan yang tiada berakhir, kakayaan yang terus melimpah atau bahkan kalau memungkinlan mereka menginginkan kesempurnaan dan keabadia untuk hidu di dunia. Sebuah kenyataan pahit akan sangat sulit mereka terima jika kenyaan hidup tak sesuai dengan kehendak yang mereka inginkan, begitulah manusia dengan nafsu yang menggelantunginya. Padahal jelas Tuhan telah nyatakan bahwasanya apa yang menjadi kesempurnaan dimata-Nya adalah nilai sebuah ketaqwaan seseorang terhadap-Nya. Dan masa itu telah ku alami masa kini..ya masa dimana dilema menguasaiku untuk menentukan pilihan kerja, mengingayt harapan S.2ku kuurungkan demi dua adikku yang masuk perguruan tinggi bersamaan. Dan ku tak ingin paksakan egoku karna itu. Kini pekerjaan menjadi hal yang harus kupilih antara mengajar di sekolah negeri lumayan bergengsi namun orang tuaku harus ku tinggalkan kondisinnya yang semakin tua, dengan beban kerja rumah tangga banyak. atau aku harus pulang dengan sekolah luar biasa yang menjadi tempat kerjaku, mengingan tak ada lowongan guru wiyata selai itu di tempatku. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku kembali ke desaku. Dengan awal niatku semua demi ibuku, ya akan kubuktikan padannya bahwasanny aku mampu menjadi sarjana pendidikan dalam segala kondisi di depanku, meski kusadar selam kuliyahku aku tak pernah mendapatkan materi tentang PLB atau pendidikan luar biasa, semua pasti ada jalannya jika kita mau, seperti pesan ibuku dulu, aku harus ubet.
Sobatku, saat kesadaranku tumbuh, dan memahami akan nilai seebuah pendidikan adalah manisvestasi bagaimana manusia mampu meninggikan derajad mereka disisi-Nya. Hal ini sebuah proses untuk memaknai bagaimana sebuah kebenaran dan kenyataan hidupku dan bagaimana memaknai sebuah kesalahan yang harusnya dihindari selayaknya ajaran yang harus diikuti, pendidikan adalah gerbang manusia memaknai siapa diri mereka. pendidikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh orang dewasa sebagai pendidik yang berusaha membimbing serta mengarahkan dan mengembangkan anak untuk dewasa, dan bagiku orang tuaku dah melakukan itu untukku.
Sebuah kenyataan bahwasannya diriku saat ini adalah guru. Terkadang menjadi beban juga mengapa masa kiniku harus bertentangan dengan harapku pada masa lalu yang ingin menjadi dokter. Ha..ha..ha…ya dan kita pasti tahu jawabanya bahwa rencana manusia tentunya tak sebanding dengan rencana yang Tuhan berikan. Dapatkah kalian membayangkan keberadaan kita bertentangan dengan harapan kita selama ini sobat, cita-cita yang melenceng, dengan karir yang sedikit beresiko adalah  sebuah kenyataan yang harus di hadapi. Meskipun demikian satu hal yang menjdi dasar atas penyimpangan dan perbedaan dalam manusia, bahwasanya dalam hakikat perbedaan yang mencakup berbagai hal baik bersivat individu, baik secara intelegensi, emosi, fisik, kemampuan berinteraksi, dan perbedaan bawaan lainya bukan menjadi perbedaan mendasar, dan mampu kita maklumi bahwasanya Tuhan dengan kuasanya dan kasih sayangnya memberikan rahmad tanpa membedakan satu dengan yang lainya, hal inilah yang menyamakan secara hakiki manusia, dan yang mematangkang niatku menjalaninya.
Bagi orang awam sepertiku, kenyatan perbedaan peserta didik bagiku yang belajar menjadi guru adalah suatu kewajaran jika itu sebatas dalam kemampuan IQ mereka menerima sebuah meteri pelajaran, atau sebuah kenakalan yang sangat unik dalam jiwa yang sedang mengalami perkembangan psikologi. Namun hal ini menjadi sangat lain dan berebeda manakala aku dihadapkan pada kenyataan bahwasanya peserta didikku harus merangkak dengan nglesot manakala menghampiriku hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Aku harus menerima jabatan tangan yang enggan untuk menjulur ke depan karna kondisi lengannya yang tertekuk. Dan kutersadar dalam pagiku ku harus mendengarkan music Ahmad Dhani atau lagu India kesukaanku, sedangkan saat kulihat dalam dekapan peserta didiku, yang dalam hidupnya tak pernah sedikitpun mendengarkan suara nyanyian dari bibirnya sendiri. Seandainya semua orang sadar akan hal itu. Meski pada kehidupan sebuah makna luarbiasa menjadi makna yang sangat teridamkan manusia, namun bukan untuk duniaku dan peserta didikku, dimana luar biasa menjadi sebuah kondisi dan keadaan yang menyimpang dalam aspek kondisi fisik, sosial, maupun mentalnya dimana mereka membutuhkan adanya pelayanan dan methode khusus dalam pelayanan pendidikan mereka.  sebuah pencapaian bukan didasarkan kurikulum yang ada seperti halnya dengan peserta didik umumnya akan tetapi kurikulum yang ada, harus menyesuaikan dengan kemampuan mereka dalam menguasaai materi yang diajarkan sesuai dengan kemampuan yang mereka bisa.
Butuh waktu yang lama hingga kuputuskan mengambil jalan ini dengan masuk di SLBN Ungaran. Bukan sebuah keputusan yang mudah jika aku tidak mengingat sebuah ilmu, meski sedikit hendaknya harus ditularkan dengan siapapun juga dan Tuhanpun tak membedakan hal itu. Namun yang menjadi kekhawatiranku adalah ketikmampuanku atau lebih tepatnya mampukah aku mengahadapi mereka dengan dunia yang sangat jauh dalam imajinasiku. Meskipun begitu banyak hal yang tak mengerti dengan kondisi yang tak sesempurna manusia kebanyakan, akan tetapi semangat mereka tak pernah hilang untuk belajar. Perkataan mereka yang selalu jujur dari hati. dan hal lain yang tak kumengerti, namun semakin kulangkahkan kakiku untuk menyerah, hatiku berontak seakan merasa ingin tahu. Dan entah apa yang menguatkanku hingga ku masih ingin disini mendengar dan melihat polah-polah mereka. Mungkin Tuhan sedang menunjukkan ku tentang arti sebuah hidup, dan ada sedikit harap manakala secercah senyum mampu menyapaku di pagi hari seakan banyak kata yang ingin terucapkan dalam bibir mungil yang terkatup karna bisu, tuna rungu, deafable atau apalah sebutannya yang pasti mereka harus tetap belajar dan menjalani hidup sepertiku. Dan dengan gerakan jari mungil diikuti mimik wajah mereka, aku berusahaa tuk pahami makna di balik kehidupan dan dunia mereka. Mereka adalah manusia.
Sebuah Confucius dalam ungkapanya pernah mengatakan bahwasanya jadilah kamu pohon yang banyak di lempari orang namun kau membalas dengan buah. Sebegitu pelik sebuah hidup yang di jalani merupakan sebuah lingkaran proses yang membawa manusia memaknai hidupnya. Lulus tidaknya tergantung dengan pilihan manusia itu sendiri dan Tuhan telah memberikan pilihan. Layaknya sebuah pohon yang dihidupkan Tuhan dengan kuasanya meski tanpa kata ia tahu apa yang menjdi resiko entah akan di tebang dan dimanfaaatkan atau hanya sebagai pohon perdu yang menunggu masa tuanya tanpa di lirikpun untuk digunakan hingga kematian menuggunya.
Manusia adalah sedikit dari ciptaan Tuhan yang diberikan nyawa dan akal meski merasa dirinya sebagai makhluk yang paling sempurnya, manusia tetap manusia yang punya rasa mengeluh, merasa kurang, punya nafsu atau keinginan, ambisi, dan kesempunaan diatas kesempunaan yang tak terbahasakan. Meski manusia mwmiliki apa yang selama ini mereka inginkan dalan hidup entah kebutuhan makan, sandang, dan papan , namun nyatanya manusia dengan berbagai cara emnuntut sebuah kebutuhan lain yang membawa manusia harus dihadapkan dengan sebuah pilihan yang sangat sulit. Meski makan tercukupi namun, kebutuhan makan ini tidak sesedarhana makan, dengan sebuah pilihan untuk memilih antara kenikmatan dan mengorbankan rasa nikmat dengan menahanya adalah pilihan yang tidak akan mungkin diambil manusia yang mempunyai akal bahwasanya tidak ada manusia yang tidak ingin hidup dalam kenikmatan. Begitu juga aku yang hanya manusai dengan kelemahan dan kekurangan meski Tuhan telah menyempunakan aku dengan keadaanku yang tanpa cacat tubuh dan mampu membedakan warna dan rasa layaknya manusia yang Tuhan ciptakan lainya.

Dari sebuah jalan yang telah menuntunku hingga saat ini aku hanya ingin berharap pada masa mendatangku, masa dimana aku berharap disitu adalah masa yang selama ini aku impikan. Masa dengan buah pemikiranku selama ini. Masa dengan banyak do’a dn berkah. Ya masa aku ingin mendirikan tempat pendidikan nonformal bagi sekelilingku, masa dimana rumah bacaku terbangun dari keringat-keringat keikhlasan dan kerja keras.
Sahabatku meski kau tak yakin padaku, karna ku tahu betapa bodohnya diriku sebenarnya. Makimu adalah semangatku, kritikmu adalah yang menyempurnakanku, dan candamu adalah hiburan terbaikku. Kini ku tahu masa laluku bersamamu takkan terulang kembali, namun ku takkan melupakan itu, dan masa kini yang kuhadapi saat ini, bantulah aku melalui do’a tulusmu, agar kumampu melewati hari-hariku untuk menjemput masa depanku. Sahabat terbaikku jujur kukatakan engakau adalah sahabat inspirasiku selama ini. Meski tanpa tatap sekalipun, meski tanpa jabat tangan dan traktiran yang sebenarnya selalu kunanti, engakau adalah yang terbaik.
Diriku adalah diriku dengan kelebihan dan kekuaranganku, dirimu adalah dirimu dengan segala yang kau miliki, maka perkenankan tulisan sederhanaku ini mampu mewakili rasaku. Terucap dalam goresanku selamat ulang tahun dan menjemput masa depanmu semoga Tuhan selalu menjaga kita…amin. 


  Tulisan ini diikut sertakan dalam :
http://www.noormafitrianamzain.com/2012/05/give-away-cah-kesesi-ayutea.html








Rabu, 09 Mei 2012

tentang...

Mahalnya Perempuan, BBM dan Sembakoku

Tercukupinya kebutuhan akan sandang, dan papan manusia tidak terlepas dari peran perempuan terhadap pemenuhan kebutuhan akan pangan. Selain itu peran ganda perempuan sebagai seseorang yang di tuntut dalam kapasitasnya sebagai seorang istri untuk produktif, yaitu penopang peran yang tak tergantikan untuk hamil, melahirkan, dan menyusui juga menjadi nilai yang sangat berharga.
Keterpurukan bangsa ini menghadapi problematika rencana kenaikan harga BBM dan sembako juga mengakibatkan himpitan dan geliat mereka untuk berperan menyuarakan suara mereka menurunkan harga BBM dan Sembako. Bukan untuk mencari pengakuan sebagai perempuan akan tetapi, mereka tentunnya akan lebih bijak untuk mencari kehidupan yang layak bagi rumah tangganya.
Mati rasa
Kebutuhan manusia untuk mampu mencukupi kehidupannya agar menjadi manusia yang layak hidup sejahtera adalah naluri. Berbagai peran yang telah diambil perempuan saat ini dari peran dalam lingkup domestik maupun lingkup sosial lainnya bukan halangan bagi mereka memberikan tenaga, pikiran, dan suarannya semata-mata untuk rumah tangga dan kehidupan yang layak baginnya. Meski tidak menutup kemungkinan segala resiko yang mengancam mereka mulai dari efek bahan penyedap, pengaruh pestisida pada sayuran dan bahan-bahan kemikal lainnya, hingga resiko sosial bahkan tak mereka hiraukan.
Kemelut melambungnya bahan baku pangan maupun BBM ini, menjadikan perempuan mati rasa akan hal termahal akan dirinnya, sebagai perempuan dengan kelembutan, perempuan dengan santun katannya, dan perempuan yang bijaksana dengan hatinnya. Peristiwa demontrasi yang melibatkan perempuan menjadikan perempuan tangguh, bahkan semakin terlihat angker pula ketika demonstran perempuan dihadapkan dengan aparat kepolisian perempuan. Meski tendang menendang, jambak menjambak, atau bahkan lontaran kata-kata pedas sebagai luapan emosi perempuan saat ini, mereka tetap perempuan. Mereka punya hati, dan suara untuk di mengerti dan di dengar kemauannya.
Setidaknya pemerintah juga tidak mati rasa dalam menyikapi mahalnya sembako dan peran perempuan saat ini.



bukan galau ataupun narsis....

kadang gaya berpikir orang bisa di lihat dari hasil tulisan, cara dia ngomong atau berpendapat, hasil karyanya, ataupun ekspresi wajah dan polahnya.


Sabtu, 05 Mei 2012

belajar and berpetualang yuuuuuuuuk

ini mangrove yang keberadaannya memprihatinkan di sepajang pantai semarang khususnya........aktivitas manusia yang kurang menyadari akan pentingnya tanaman ini, akan berdampak buruk bagi kelangsungan ekosistem yang ada di dalamnya. mangrove sebagai tanaman yang mampu menjaga keseimbangan alam, dari akarnya yang kuat mampu mengurangi abrasi...ekosistem ikan jga banyak berkembang dstu, hendaknya kita mampu menengok dan memberi perhatian yang lebih akan hal ini. paling tidak kita menjaga kelestariannya dengan tidak membiarkan seseorang menebang, menjadikan pakan ternak,dan membuang sampah di alam itu......

ne temen-temenku tercinta meski kadang mereka semrawut tpi kelihatan cute low ge aksi apa ajha...demo? ok jalan2x ? ok semboyannya? bhaksos? ok.....yang pasti this my life, bebaskan pikiran kita karna hidup cma sekali so berbuatlah yang baik and bermanfaat selagi kamu bisa... "bersenang-senang" BE-FIVE

mereka butuh hidup layaknya kita.........................

bebaskan dirimu dan duniamu...

Kamis, 03 Mei 2012

yang sempat terlintas dalam pikirku


SKS di SMA, Untuk Apa?
Oleh: Vitri*

Di Indonesia kurikulum telah mengalami berbagai perubahan. Tetapi, dari berbagai perubahan tersebut hasil yang diharapkan belum signifikan, meskipun telah dilakukan berbagai penyesuaian-penyesuaian kelengkapan pembelajaran yang ada di dalamnya.

Perubahan kurikulum ini berlangsung setiap tahunya dan telah dapat dipastikan perubahan ini ada ketika adanya perubahan kabinet, maupun pergantian presiden. Di mana dari setiap rumus pendidikan yang ada diharapkan dapat menjadi salah satu langkah yang merupakan metode yang terbaik untuk meningkatkan pendidikan, sayangnya dari harapan mereka untuk menjadikan metode maupun kebijaksanaan yang mereka lakukan, tidak pernah dilakukan kompromi yang sehat antara perumus sistem kebijaksanaan pendidikan dengan yang menjadi subyek maupun objek pendidikan itu sendiri. Selain itu peran masyarakat yang juga mempunyai andil dalam pencapaian pemerataan pendidikan kurang mendapatkan perhatian.
           
Pendidikan dan Otonomi Daerah
Otonomi pendidikan sebagai akibat adanya otonomi daerah, saat ini mendapatkan sorotan dari bagi masyarakat. Banyak pemaknaan masyarakat berharap dengan adanya otonomi pendidikan ini mampu merubah dan meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan apa yang harapan masyarakat. Adanya salah satu pemaknaan secara finansial bahwa dengan adanya otonomi pendidikan ini daerah yang mempunyai finansial yang memadai akan mampu mengembangkan aspek-aspek pendidikan yang ada di dalamnya dengan tanpa masalah. Dengan sedikit pemaknaan ini tentunya akan muncul masalah baru yang tidak jauh dari itu yaitu, bagaimana dengan daerah yang notabene adalah merupakan wilayah miskin dari segi finansial, apakah ia mampu dalam menghadapi permasalahan pendidikan, jika dari kebutuhan yang lain pun mereka masih kelimpungan.
Hal itu adalah sedikit problematika dari adanya pemberlakuan otonomi pendidikan untuk daerah. Meskipun ada hal yang positif yang diharapkan dari adanya sistem ini, antara lain daerah akan mampu mengoordinir kebutuhan-kebutuhan masing-masing di daerahnya. Kebutuhan ini diharapkan akan lebih detail dan mencapai hingga ke tingkat terkecil dari wilayah-wilayah yang ada dalam masyarakat daerah tersebut. Selain itu, dari lembaga pendidikan yang ada akan mampu menciptakan sistem pembelajaran yang dirasa efektif untuk diterapkan dalam wilayahnya, disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat sekitar. Dari hal yang terkecil inilah diharapkan aspirasi dari masyarakat akan tertampung dan tersalurkan seperti yang diharapkan, pada umumnya.
Berbagai upaya-upaya ini kemudian timbul dari berbagai lembaga-lembaga pendidikan yang berawal dari penyikapan masalah-masalah yang ada, misalnya, dalam menghadapi masalah pendidikan. Kasus-kasus pendidikan yang selalu muncul dari tahun ke tahun adalah tentang sistem pendidikan yang monoton, dan kurang mengena dalam memberikan nilai lebih bagi peserta didik. Peserta didik selama ini merasa dijadikan kelinci percobaan oleh sistem-sistem yang selalu muncul dalam perubahan kurikulum maupun dalam perundang-undangan pendidikan lainnya.
Ketidakpuasan lembaga-lembaga pendidikan ini kemudian memunculkan ide-ide baru untuk memberdayakan pendidikannya. Terutama karena didukung adanya otonomi yang telah diberlakukan ini, menjadi keleluasaan lembaga pendidikan untuk menentukan kebijaksanaannya sendiri. Akan tetapi jika lebih seksama kita melihatnya, dari dahulu pendidikan yang ada memang tidak akan bisa terlepaskan dari adanya sistem politik yang ada. Meskipun dengan adanya otonomi yang diharapkan mampu menampung kemauan masyarakat akan pendidikan, hal tersebut juga akan menggalai kendala yang tidak bisa dilepaskan dari adanya pendanaan yang harus ada.
Dan dari hal itulah yang kemudian peraturan ataupun UU pendidikan manapun yang tidak akan mengatakan bahwa anggaran yang ada dalam pendidikan selama ini adalah bentuk komersialisasi pendidikan dan tidak menutup kemungkinan sistem yang diterapkan dalam manajemen pendidikan adalah salah satu bentuk privatisasi pendidikan. Meskipun secara pengemasan program yang cantik dan terkadang hanya dengan kata otonomi akan mampu menjadikan perhatian lebih dari masyarakat, secara lebih bijak bila hal pendidikan adalah hak yang memang seharusnya diberikan secara luas oleh masyarakat secara bebas, dan tanpa tekanan sistem yang kaku yang justru malah dapat menghambat hidupnya pola pikir yang ada dalam masyarakat. 

Berawal dari SKS
Dalam format otonomi daerah yang ada, daerah provinsi mempunyai  wilayah yang terbatas dalam mengelola daerahnya, karena terbatasnya ruang lingkup propinsi yang hanya meliputi tata pemerintahan. Sedangkan wilayah kabupaten atau kota mempunyai cakupan yang lebih luas, terutama dalam pengelolaan pendidikannya. Di mana dalam pengelolaan sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya tidak berdasarkan pada sistem sentralisasi, karena sistem ini telah tergantikan dengan adanya sistem desentralisasi yang memungkinkan adanya peningkatan pendidikan berdasarkan ketepatan wilayah (tempat) secara lebih tepat, sesuai geografis dan topografi daerah masing-masing wilayah.
Sistem yang kemudian muncul dari sini adalah adanya daerah yang menginginkan perubahan proses belajar mengajar ini dengan penggunaan SKS (Sistem Kredit Semester) yang pada mulanya hanya diberlakukan pada perguruan tinggi semata. SKS yang ada dalam sekolah dasar maupun sekolah menengah yang diterapkan ini menggunakan tenaga guru sebagai tenaga pembelajarannya. Meskipun demikian pada hakikatnya dalam SKS yang ada guru yang diharapkan di sini bukan hanya pada guru yang berorientasi pada pembelajaran semata akan tetapi guru yang memang ahli dalam materi yang disampaikan pada peserta didiknya.
Sedangkan dalam sekolah-sekolah dasar maupun menengah pada umumnya hanya guru yang mampu dalam pengajaran saja, dan hanya menguasai garis besar pembelajaran yang ada. Dalam SKS sendiri mengharapkan adanya perubahan guru pendidik yang berbeda dalam setiap materi yang disampaikannya, disesuaikan dengan materi yang disampaikan sehingga kemudian kebutuhan guru-guru ahli sangat diharapkan, yang memungkinkan akan menggeser peran guru kelas yang ada sebelumnya. Di mana pada pembelajaran sekolah pada umumnya,  guru bisa menyampaikan materi pelajaran lebih dari satu.
Selain itu, kebutuhan wilayah kerja bagi SKS lebih luas, pada setiap pergantian pembelajaran yang ada membutuhkan adanya ruangan kelas yang berbeda, dalam arti harus berpindah dari satu kelas ke kelas yang lainnya. Dari kebutuhan akan kelas ini kemudian menuntut adanya perbanyakan atau penambahan kelas yang lebih banyak dari kapasitas sekolah pada umumnya. Pengaruh yang lebih signifikan adalah pada peserta didiknya sendiri yang pada sistem SKS peserta didik yang mampu menyelesaikan kredit semesternya, akan diperbolehkan untuk mengambil materi pelajaran yang lain sesuai target kurikulum yang harus dicapainya.
Dengan adanya sistem ini diharapkan peserta saling bersaing dalam mencapai keberhasilan pembelajarannya. Siapa yang mampu menyelesaikan kreditnya maka ia akan lulus atau selesai dahulu tanpa harus menunggu waktu yang sangat lama untuk mengikuti pembelajaran seperti yang diterapkan pada sekolah-sekolah pada umumnya. Akan tetapi kemudian yang harus dihadapi adalah dalam pencapaian keberhasilan tes akhir atau ujian nasional, sebagai ujian akhir dalam mencapai kelulusan yang berstandar nasional harus menunggu pada waktu ujian nasional ini diberlakukan. Dari hal inilah kemudian yang harus dilalui peserta didik yang telah selesai dalam materinya, akan tetapi harus nganggur sementara untuk menunggu ujian ini berlangsung.
Di Indonesia sendiri sekolah yang telah menerapkan  SKS selama ini misalnya; Sekolah Menengah Atas 2 Rembang (SMA 2 Rembang)dan SMA 1 Lasem. Pada dasarnya dalam otonomi daerah tentang kependidikan yang diharapkan adalah, adanya proses perbaikan dalam kependidikan yang ada di Indonesia, yang mana yang telah ada selama ini, dan mulai  diterapkan dalam sekolah di Rembang dan Lasem pada 2006 ini, mempunyai langkah-langkah proses pengembangan yang terdiri dari; SKM (sekolah kategori mandiri), yang juga mempunyai sub-sub proses mulai dari moving kelas (kelas berpindah), pencapaian kurikulum melalui  sistem SKS, di mana siswa yang berhasil menyelesaikan mata pelajaran tertentu, boleh mengambil mata pelajaran yang lain sesuai dengan yang diinginkannya.
Hal lain yang harus dipenuhi adalah mengenai pemenuhan sarana dan prasarana yang harus ada untuk menunjang adanya moving kelas ini. Sarana ini meliputi, jumlah kelas yang harus ditambah dari kapasitas kelas semula, dan alat-alat yang menunjang tiap mata pelajaran yang harus ada untuk membantu proses belajar siswa(alat-alat peraga, buku panduan, dan fasilitas lain yang diperlukan dalam pembelajaran).
Meskipun dalam sekolah tersebut telah menerapkan sistem SKS, akan tetapi hanya satu kelas saja yang telah diterapkan sistem ini yaitu kelas 10 saja. Dari hal inilah yang kemudian timbul penilaian adanya ketidaksiapan secara penuh dalam menerapkan sistem SKS ini, kemudian hal lain yang ada dalam kategorisasi sekolah yang ada selama ini belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Baik kategori sekolah nasional, sekolah internasional, maupun sekolah-sekolah lainnya, yang seharusnya lebih dahulu dipahami kategorinya sebelum adanya sistem SKS yang kemudian muncul dan belum tentu memahami arah  pencapaian kategori yang ada.
Tuntutan Diknas untuk menjadikan sekolah yang ada di Indonesia menerapkan sistem SKS secara keseluruhan pada tahun 2013, adalah hal yang harus mendapatkan perhatian yang serius di mana substansi-substansi yang ingin dicapai Diknas untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia harus dilengkapi terlebih dahulu. Dan perlu diingat implementasi SKS bukanlah salah satu jalan yang harus dilakukan. Dalam hal ini keberhasilan yang telah ada dalam penerapan sistem ini harus di buktikan dari masing-masing sekolah yang telah berusaha menerapkannya.  

puisi


Puisiku


Dari rangkaian cerita peridu
Meleburkan kata demi kata
Dari ungkapan rasa yang menggebu
Menghantarkan pesan tanpa dusta
Puisiku..

Terbangun dari bongkahan air mata
Membendungkan segala luapan rasa
Kadang terlukiskan bak pelampiasan hasrat
Dan  sempat berupa desahan jiwa yang lelah
Lelah dengan kata yang tak pernah di dengar
Lelah dengan penantian yang panjang
Dan lelah akan kenangan-kenangan usang

Puisiku
Menjelmalah enkau
Bagai merpati yang terbangkan pesanku pada lazuardi
Melekatlah pada jendela dan telinga mereka yang mendengar
Lewat hati
Dan kirimkan salamku padannya akan puisiku yang penuh makna



salam sapa  : puisiku “12